Selasa, 15 Desember 2015

karya seni barang bekas




Membuat karya seni dari barang-barang bekas memang memiliki nilai tersendiri bagi yang membuatnya. Selain unik juga dapat mengurangi sampah dan limbah yang semakin lama semakin banyak. Kita sering melihat kemasan tisu dari karton. Tidak sedikit orang yang lebih memilih meletakan kemasan karton tisu di tempat sampah dibandingkan menggunakannya kembali.



Kali ini kita akan membuat hiasan yang menarik dari barang-barang bekas yang sudah tidak digunakan lagi. Bagaimana tahap-tahap pembuatannya? Yuk langsung saja kita bisa lihat apa saja yang harus disiapkan.

Alat dan bahan
· Kemasan kertas tisu box yang sudah tidak digunakan lagi
· Gunting
· Cutter
· Lem putih
· Jepitan pakaian (untuk menjepit karya)
· Tali
· Manik-manik berbentuk bulat

Cara pembuatan: 
1. Siapkan kemasan kertas tisu box-nya. Kemudian tidak lupa juga untuk menyiapkan gunting serta alat tulis seperti pensil atau bolpen untuk menandai karya yang akan dipotong. Kemasan tisu lebih baik berbahan agak tebal agar karya akan bertahan lebih lama ketika digantung nanti.2. Kemudian buatlah pola karya seperti pada gambar berikut. Gambar tersebut ialah rumah dengan gambar hati di tengahnya. Untuk tinggi bisa ditentuka sendiri namun harus sama agar tidak terjadi perbedaan ketika akan di lem nantinya.3. Buatlah sekitar 12 rumah dengan gambar hati ditengah. Usahakan agar semua bentuknya dan ukurannya antara satu dengan lainnya.jika semua telah dibuat sesuai dengan ukurannya, lipat menjadi 2 ke 12 potongan rumah tersebut. Untuk caranya, bisa dilihat di gambar berikut.4. Jika sudah lipat, berilah lem pada salah satu bagian pada rumah hati tersebut. Beri lem pada sisi kiri rumah yang dilipat menjadi 2. Beri lem secukupnya agar kertas tidak meleset ketika akan ditempelkan dengan bagian lainnya.5. Setelah itu, gabungkan tiap rumah hati tersebut. Tidak perlu sekaligus untuk menggabungkan rumah hatinya.mulailah satu-persatu. Misalkan 2 rumah hati sudah ditempelkan lalu diamkan beberapa detik hingga lemnya merekat kuat lalu bisa dilanjutkan kembali. Oleskan lem pada sisi kiri dari tiap rumah hatinya.6. Agar lem dapat mereka lebih kuat bisa juga di jepit dengan jepitan pakaian sehingga kartyanya akan terlihat rapi ketika digantung nanti atau bisa juga diberi penjepit setelah lem kering untuk mempertegas lipatan rumah hati. jepit rumah hati hingga lipatan benar-benar simetris dengan lainnya.7. Nah, jika semua rumah hati sudah direkatkan maka hasilnya bisa dilihat seperti gambar berikut. Ambilah tali kecil dan manik-manik yang tengahnya berlubang. Tali ini sebagai alat penggantung rumah hatinya sedangkan manik-manik akan berguna untuk tempat tali dalam menggantungkan rumah hatinya. Masukan tali ke tengah-tengah puncak rumah hati.lalu sambungkan dengan manik-manik dan ikat keatas lagi.8. Rumah hati sudah bisa digunakan untuk hiasan pintu seperti pintu kamar dan gantungan kunci. Perlu diingat gantungan ini usahkan agar tidak kena air agar bahan dari rumah hati ini tidak rusak.

(Dikutip dari michelemademe.com) 


(Sumber:http://www.kesekolah.com/)

Cerpen Remaja Islami



Sepenggal Episode Cinta
Oleh: Vita Sumarhadi
(Sumber: Majalah Al Hijrah)
       
       Dengan mata hampir tak percaya, kutatap sosok cewek yang kini berdiri, di hadapanku. Kaca mata minusnya, tas snoopynya, sepatu kets hitamnya.... Tak salah lagi, orang ini pasti Sari. Tetapi kerudung putih yang menutupi rambutnya, membuat aku hampir tak mengenalinya. Secepat inikah, Ri?

Sari nyengir-nyengir seperti biasa ketika kuguncang-guncangkan bahunya.

“Elo kapan, Ci?” tanyanya Iirih .

Aku tersenyum, kecut. Ya, aku kapan, ya?

Suatu saat nanti, Ri, jawabku, hanya di dalam hati. Aku tak bisa berkatakata. Lidahku terasa kelu. Senang dan sedih bercampur menjadi satu. Haru. Senang karena Sari menjadi lebih alim (ini suatu kemajuan pesat untuk seorang seperti Sari yang doyan ngebut kalau naik motor). Sedih karena aku seperti kehilangan Sari yang dulu. Sahabat terdekatku yang... A ... ya Allah, aku harus rela melepasnya menjadi lebih dekat dengan-Mu.

Aku dan Sari pernah saling berjanji untuk, suatu saat nanti, berjilbab. Setiap ke toko buku, kami tahan ngetem berjam-jam di counter buku-buku Islam. Lalu kami membeli buku dengan judul yang berbeda supaya bisa saling tukar. Topik tentang wanita dan Islam, termasuk topik tentang pacaran menjadi bahasan yang kami pilih. Tak jarang kami juga mendiskusikannya berdua. Hanya berdua.

Sering mentok memang, dan kalau sudah begitu kami sama-sama akan mengatakan “Wallahu allam bishawab.” Hehehe....

Sebulan yang lalu akhirnya kami sepakat meninggalkan pakaian pendek kami dan diganti dengan celana panjang atau kulot panjang serta blouse atau kemeja berlengan paniang.

“Kita berubahnya dikit-dikit aia dulu, Ci,” begitu kata Sari.

Aku sih setuju saja. Apalagi buat kami yang berkulit kereng alias coklat tua, berpakaian panjang-panjang jelas menguntungkan. Kulit jadi lebih putih. Kalau soal seragam sekolah, ya, terpaksa mengikuti aturan yang berlaku.

“Kalo perubahan kita drastis, bisa bikin shock banyak orang, makanya pelan-pelan aja,” ujarku.

“Perlahan, tapi pasti. Soalnya kita tahu apa sih, tentang Islam. Ntar ditanya-tanya orang bingung nggak bisa jawab, kan malah repot.”

“Nanti orang-orang pada bilang, Udah pake jilbab, tapi kok, gitu aja nggak tau,” timpal Sari.

Aku manggut-manggut setuju “Betul, daripada pake jilbab, tapi masih malumaluin.”

“Ri, yang penting kan kita mengimani kalo jilbab itu wajib, cuma masalahnya sekarang kita belon mampu ngelaksanain itu. Allah pasti tau, deh,” ujar Sari seperti menghibur diri.

Aku manggut-manggut lagi.

Ya, dalam masa persiapan dan penantian hidayah dari Allah ini (soalnya katanya pake jilbab itu hidayah Allah), kami sepakat untuk banyak baca buku dulu, nyari temen banyak dulu, hura-hura dulu, ngelaba dulu. Dan, pada saatnya nanti, Insya Allah kami siap.

Namun, sekarang Sari sudah lebih dulu berjilbab. Sedangkan aku? Ya Allah, kenapa hidayah-Mu baru sampai ke Sari? Kapan hidayah itu datang padaku? Tak terasa mataku membasah.

“Uci!”

Aku menoleh, Clara berlari menghampiriku.

“Dapet salam balik,” katanya sambil cengengesan.

“Emangnya siapa yang ngirim salam,” balasku, pura-pura cuek. Namun tak urung dadaku berdebar-debar juga. Pasti dari ....

“Tuh, orangnya di sana,” bisik Clara sementara telunjuknya mengarah ada gerombolan cowok yang ada di bawah pohon, di depan kelas 2-5. Dadaku berdesir begitu raut wajah Dani memandangku dari sana.

Gimana?” tanya Clara dengan nada menggoda.

Aku tahu, wajahku pasti merah, kuning, ijo, saat itu. Dan, bayangan Sari yang baru saja masuk ke ruang laboratorium membuat aku tak berani berkomentar apa-apa.

“Tau, ah!”

“Eh, gimana sih, udah disalamin juga, Ci, katanya...”

Buru-buru aku bergegas masuk ke Lab, sementara Clara berlari mengejarku.

Hampir semua teman-teman di kelasku tahu, kalau aku menaruh hati pada Dani, anggota tim basket sekolah. Dan semua orang juga tahu kalau Dani adalah tipe cowok yang pendiam, cool, terutama di hadapan cewek. Tak heran kalau beberapa orang menawarkan diri jadi comblangku, termasuk Clara, Alex, dan dahulu... Sari.

“Dari mana aja, Ci? Aku nyariin kamu dari tadi,” sambut Sari begitu aku sampai dan duduk di sampingnya. Aku cuma bisa menjawabnya dengan senyum, mengatur napas, menenangkan hati sambil berharap Pak Suratama cepat memulai praktikum. Sari kemudian asyik dengan diktatnya. Kami kemudian tenggelam dalam praktek biologi kelompok sampai tiba-tiba, Clara datang bergabung (padahal dia bukan kelompokku).

Seraya pura-pura memperhatikan hasil uji larutan asam dengan kertas lakmus, Clara mendesakku dengan gaya comblangnya yang profesional (diam-diam aku jadi kagum dengan kegigihannya).

“Ayo, Ci. Kapan Lagi. Doski udah ngasih lampu ijo, tuh. Eh, orangnya susah lho, buat deket sama cewek. Tapi percaya deh, orang kayak gitu, sekali jatuh cinta bakalan setia sampe mati,” katanya berbisik.

Aku diam tak berkutik. Dalam berpikir, Sari yang berdiri di sebelahku pasti bisa mendengar semua kata-kata Clara barusan. Duh, malu nggak, sih? Dan membuat lebih malu lagi, tabung reaksi di tanganku hampir lepas begitu saja. Untung Sari cepat menggapainya sebelum ia menyentuh lantai. Uhf! Hampir saja.

“Lain kali ati-ati, Non,” ujarnya sambil tersenyum tanpa menatap wajahku.

Aku melirik Clara. Anak itu buru-buru ngabur sebelum terjadi accident selanjutnya.

“Uci!” panggil Alex sambil berjalan ke arahku. Wah, bawa kabar apa lagi dia hari ini. Dadaku kembali berdebar, gimana enggak, selain comblangku yang kedua dia juga teman sekelas Dani. Kini cowok bermata sipit itu sudah berdiri di depan mejaku.

“Mau ujian matematik ni, tapi Dani lupa nggak bawa penggaris. Pinjem ya,” katanya.

“Ambil nih, pensilnya sekalian, tip-ex perlu nggak?” tiba-tiba Agus sudah ada di sampingku dan menyodorkan semua barang-barang milikku itu ke Alex. Tanpa basa-basi lagi, Alex langsung melesat ke kelasnya.

Lagi-lagi aku hanya bisa diam. Diam dengan hati berbunga-bunga. Tapi, jangan-jangan semua ini hanya ulah comblang-comblangku saja, pikirku curiga.

“Clara, emangnya bener kalo Dani.....”

“Tuh kan, elo nggak percaya sih, sama gue. Kemaren waktu kita papasan sama doski di kantin, dia kasih senyum e elo, tapi elonya malah diem. Dia kan jadi bingung,” cerocos Clara agak keras. Aku celingukan kanan-kiri, nyariin Sari. Enggak ada. Amaaan.

“Terus...,” aku harap-harap cemas.

“Elo serius nggak, sih? Kan kasihan
dia.”

Aku tercenung, berbagai rasa berkecamuk dalam hati. Antara senang, berbunga-bunga sekaligus cernas dan gelisah.

“Eh, tapi tenang aja, Ci. Kayaknya malah dia yang suka sama elo. Kemaren aja dia nanya-nanyain elo ke Alex,”
sambung Clara.

“Alex bilang apa?”

“Pokoknya beres, deh,” Clara mengedipkan sebelah matanya dengan centil.

Hatiku semakin tak tenang.

Hari ini, pagi-pagi sekali aku telah sampai di sekolah. Nggak tahu kenapa belakangan ini aku jadi begitu bersemangat tiap berangkat sekolah. Apa karena Dani?

Sampai sekolah, gerbang telah terbuka lebar, nggak tahunya sepagi ini pun sekolah sudah ramai. Kulihat beberapa
di antara mereka sedang sarapan di kantin, dan di depan pintu mushala beberapa sepatu berjajar rapi. Aku tidak menemukan sepatu Sari di sana, berarti anak itu belum datang karena sejak berjilbab Sari selalu menyempatkan diri salat duha sebelum pelaiaran dimulai. Tiba-tiba, di ujung koridor aku menemukan sosok yang hari-hari belakangan ini selalu menarinari di benakku. Dani! la berjalan ke arahku dan tersenyum ketika kami berpapasan. Manis sekali. Jantungku tentu berdebar-debar dengan debaran yang lebih dahsyat dari biasanya.

“Hai!” sapanya ramah, tapi terdengar canggung. “Ci, saya mau balikin ini,” Dani mengeluarkan alat-alat tulisku yang kernarin dibawa Alex dari saku bajunya.

“0 ...” aku menerimanya dengan gugup. Kejadian ini benar-benar mengejutkanku.

“Tadinya mau dibalikin kernarin, tapi saya nggak nemuin kamu.”

Aku manggut-manggut, “Nggak apaapa, kok. Gimana ulangan matematiknya? Bisa?” aku berusaha untuk sebiasa
mungkin.

Dani tersenyum lagi, “Tau deh, kayaknya sih ... enggak.” Aku tertawa kecil.

“Thank’s, ya,” katanya sebelum kami berpisah, masih dengan senyum manis yang mengembang di wajahnya yang tampan.

Aku cuma bisa mengangguk sambil membalas senyumannya. Tapi, di dalam hati aku seperti ingin berteriak keras-keras “Clara! He’s so sweet.”

Siangnya, habis-habisan aku curhat ke Clara. Ya, soalnya sama siapa lagi, masa sama Sari, sih? Wah, nggak berani aku. Tapi anehnya, setelah kejadian itu, aku sering merasa bersalah. Entah bersalah pada siapa, Sari-kah, atau Allah?

Di bulan Februari, menjelang valentine’s day, hari-hariku semakin merah jambu. Dani telah sering bersikap manis padaku. Walau kami belum meresmikannya, tapi sikap Dani padaku cukup membuat seisi sekolah tahu, cepat atau lambat kami akan segera memulai hari-hari indah, mengisi masa SMA. Namun pada saat yang sama pula, rasa bersalahku pada sesuatu yang belum jelas, semakin menjadi. Aku merasa seperti telah mengkhianati seseorang. Seseorang yang begitu dekat. Entah siapa.

Kadang, perasaan itu kemudian berganti dengan getar-getar yang aneh, kemudian gelisah yang tak menentu. Ditambah lagi bayangbayang wajah Dani dengan senyum manisnya. Kalau sudah begitu, aku sering berdiam diri beberapa saat,
mencoba menjernihkan pikiran. Seperti ada sesuatu yang tak beres terjadi di dalam hatiku.

Aku mencoba beristighfar untuk meredakan semua perasaaan aneh itu. Cara itu kuperoleh dari buku kecil yang dipinjamkan Sari beberapa hari yang lalu. Dengan berzikir kepada Allah, hati kita akan tenang, begitu kata buku itu.

Dapat kuduga, di hari Valentine, Dani memberi sesuatu yang istimewa padaku, demikian juga Sari. Kupandangi dua benda berwarna senada, merah jambu yang kini tergeletak di atas meja belajarku. Satu dari Dani, satunya lagi dari Sari. Dani memberikan sekuntum bunga mawar merah dari kain satin yang indah. Ditangkainya tergantung kartu mungil bertuliskan:

‘With my mind. Love, Dani.’

Sedangkan satunya lagi jilbab berenda warna merah jambu yang sangat manis. Di dalam lipatannya ada tulisan tangan Sari yang berbunyi,

“Let’s start together. Love, Sari.”

Kata Sari ketika menyerahkan bingkisan itu, ini bukan kado Valentine karena bagi Sari, hari-harinya bersamaku selalu Valentine. Ah, Sari...

Bagiku, dua benda ini tak hanya sebuah kado dari orang-orang tercinta, melainkan juga suatu pilihan yang satu sama lainnya bertolak belakang. Setiap pilihan mengandung konsekuensi yang berbeda dan aku tahu konsekuensi itu. Tak pernah kuduga aku akan dihadapkan pada situasi yang membingungkan seperti ini.

Sambil menimang-nimang bunga pemberian Dani, dan bercermin dengan mengenakan jilbab pemberian Sari, aku terus berpikir. Aku tak ingin mengorbankan salah satunya. Artinya, kamu ingin berjilbab dan sekaligus juga pacaran dengan Dani? Suara batinku. Apa nanti kata orang, berjilbab kok, pacaran? Suatu pertanyaan retoris yang sering kulontarkan juga.

Aku selalu protes tiap kali melihat cewek berjilbab, tapi berjalan mesra dengan cowok.

Dulu, setiap mendengar protesku itu, Sari selalu bilang, “Ci, jilbab kan nggak cuma sepotong kain yang menempel di kepala. jilbab juga sebagai langkah awal untuk lebih taat pada Allah, termasuk... nggak pacaran. Moga-moga nanti kita kalau udah berjilbab nggak gitu, ya?”

Dadaku terasa sesak, mengapa Allah mendatangkan Dani di saat-saat seperti ini? Tiba-tiba, mataku tertuju pada sehelai kertas yang jatuh dari lipatan jilbab yang diberikan Sari.

Ya, Allah! Aku terhentak, kertas itu ku tulis ketika masih kelas satu. Isinya bait-bait lagu yang pernah diajarkan Mbak Rara saat mengikuti Studi Dasar Islam Terpadu. Tak terasa air mataku mengalir ketika membacanya dan melantunkannya kembali.

Sayup-sayup, aku seperti mendengar suara Sari bernyanyi.

Tak hanya pakaian, ataupun hiasan,
Tapi lebih lagi
Jilbab putih ini akan mengantarkan
Diri kita pada ridha ilahi
Bersihkan hatimu
Luruskan akhlakmu
Jadilah Muslimah
Penuh dengan kharisma
Semoga Allah, bersama kita

Ya Allah, kapan lagi akan Kau tunjukkan jalan pada Uci kalau tidak sekarang ini, jerit batinku.

“Kapan lagi, Ci. Dani udah terus terang ke elo. Gue nggak bisa ngebayangin, berapa cewek yang bakalan patah hati melihat kalian berdua. “

“Iya, kapan lagi, Ci. Kita nggak tahu, kapan hidayah Allah akan datang lagi. Dan hidayah itu hanya diberikan kepada orang yang Dia cintai dan orang itu juga mencintai Allah. Sari yakin, Uci pasti mau menerima hidayah itu. Kita harus mulai berbenah diri dari sekarang karena maut nggak pernah bilang, kapan akan datang.”

Bayangan Clara dan Sari hilang dan muncul bergantian. Juga wajah manis Dani. Dani yang selalu tersenyum ramah padaku, Sari dengan jilbab putihnya serta Clara dengan kalung salibnya. Ya Allah, tiba-tiba saja aku teringat dengan kalung perak yang selalu menghiasi leher Clara!

Kami berpelukan. Air mata Sari jatuh ke jilbab putihku. Aku pun begitu, jilbab Sari basah oleh butiran air mata yang tak bisa dibendung. Aku begitu rindu pada Sari. Belakangan ini, sejak ia berjilbab, persahabatan kami merenggang. Apalagi setelah hadirnya Clara dan Dani. Tapi sekarang, kami akan bersama-sama lagi. Semoga Allah memudahkan jalan yang kupilih.

“Uci!” panggil Alex. Aku terkejut. Kulihat Alex berjalan di samping Dani, mendekati kami. “Ci, kata die nih, elo makin manis, lho...” canda Alex sambil menyikut Dani. Dani tersenyurm ke arahku. Duh, ya Allah, beratnya. Aku berdebar-debar lagi.

“Tenang aja, Ci. Tadi pagi anak-anak udah ngebilangin dia. Lantaran elo udah berjilbab, dia kudu pake peci biar serasi. Eh, Dani-nya mau tuh. lya, nggak, Dan?” cerocos Alex cuek.

Dani cuma tersenyum sambil menatapku.

Ada setitik bimbang dalam hati ini. Ya Allah, kuatkan Uci.

“Gimana, Ci. Diterima nggak? Dani udah nggak sabar, tuh,” desak Alex sambil senyum-senyum. Sebagai comblang, mungkin ia merasa telah bekerja dengan sukses.

“Wah, telat ..., Uci udah nerima yang lain,” cetus Sari tiba-tiba.

Alex melongo, “Ya Alex yang Nashara itu tentu bingung. Seperti ada jarum menusuk-nusuk hatiku saat itu, tapi buru-buru kuenyahkan.

“Terima kasih bunganya ya, Dan,” kataku sambil menundukkan wajah. Aku tak ingin wajah manis Dani terusterusan menari-nari di benakku.

Dani mengangguk, “Hanya itu?” mungkin begitu pikirnya.

Tapi, biarlah Sari atau Bambang yang ikhwan akan menjelaskan pada Dani.

Sepintas kulihat wajah Dani agak serius, “Eh, Ci, kita masih bisa temenan kan?”

Aku melirik ke arah Sari.

“Ya jelas dong, masa mau musuhan?” jawab Sari sedikit bercanda.

Aku menarik napas lega. Sari selalu saja bisa mencairkan suasana. Diamdiam, jauh di dalam lubuk hati, aku bertekad untuk menjaga jarak dengan Dani selagi masih ada penyakit di dada ini. ***

Biografi dan Puisi Chairil Anwar








Berkas:Chairil Anwar Pelopor Angkatan '45 p 48.jpg
Chairil An
Puisi Aku yang dipajang di tembok di Leiden.
     

      Chairil Anwar adalah seorang penyair yang berasal dari Indonesia. Chairil Anwar mulai terkenal dalam dunia sastra setelah pemuatan tulisannya di Majalah Nisan pada tahun 1942, saat itu ia baru berusia 20 tahun. Ia juga dikenal sebagai “Si Binatang Jalang” dalam karya-nya, yaitu "Aku".  Ia telah menulis sebanyak 94 karya, termasuk 70 puisi. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan '45 sekaligus puisi modern Indonesia.

Biodata Chairil Anwar

Nama Lengkap : Chairil Anwar
Tanggal Lahir : 26 Juli 1922
Tempat Lahir : Medan, Indonesia
Pekerjaan : Penyair
Kebangsaan : Indonesia
Orang tua : Toeloes (ayah) dan Saleha (ibu)

Biografi Chairil Anwar

      Chairil Anwar dilahirkan di Medan, Sumatera Utara pada 26 Juli 1922. Ia merupakan anak tunggal dari pasangan Toeloes dan Saleha, ayahnya berasal dari Taeh Baruah. Ayahnya pernah menjabat sebagai Bupati Kabupaten Inderagiri, Riau. Sedangkan ibunya berasal dari Situjug, Limapuluh Kota Ia masih punya pertalian kerabat dengan Soetan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia.

    Sebagai anak tunggal yang biasanya selalu dimanjakan oleh orang tuanya, namun Chairil Anwar tidak mengalami hal tersebut. Bahkan ia dibesarkan dalam keluarga yang terbilang tidak baik. Kedua orang tuanya bercerai, dan ayahnya menikah lagi. Chairil lahir dan dibesarkan di Medan, sewaktu kecil Nenek dari Chairil Anwar merupakan teman akrab yang cukup mengesankan dalam hidupnya. Kepedihan mendalam yang ia alami pada saat neneknya meninggal dunia.

   Chairil Anwar bersekolah di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi pada masa penjajahan Belanda. Dia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), sekolah menengah pertama Hindia Belanda, tetapi dia keluar sebelum lulus. Dia mulai menulis puisi ketika remaja, tetapi tidak satupun puisi yang berhasil ia buat yang sesuai dengan keinginannya.
Meskipun ia tidak dapat menyelesaikan sekolahnya, tetapi ia tidak membuang waktunya sia-sia, ia mengisi waktunya dengan membaca karya-karya pengarang Internasional ternama, seperti : Rainer Maria Rike, W.H. Auden, Archibald Macleish, Hendrik Marsman, J. Slaurhoff, dan Edgar du Perron. Ia juga menguasai beberapa bahasa asing seperti Inggris, Belanda, dan Jerman.


Kumpulan Puisi Chairil Anwar.

 Aku
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kauTak perlu sedu sedan ituAku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuangBiar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjangLuka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih periDan akan akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

TAK SEPADAN
Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros
Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka
Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka
Februari 1943

Senja di Pelabuhan Kecil
Buat Sri Ayati
Ini kali tidak ada yang mencari cinta di antara gudang, rumah tua, pada cerita tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang menyinggung muram, desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak dan kini tanah dan air tidur hilang ombak
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan menyisir semenanjung, masih pengap harap sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.

Cintaku Jauh di Pulau Cintaku jauh di pulau Gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar angin membantu, laut terang, tapi terasa aku tidak ‘kan sampai padanya
Di air yang tenang, di angin mendayu di perasaan penghabisan segala melaju Ajal bertakhta, sambil berkata: “Tujukan perahu ke pangkuanku saja.”
Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh! Perahu yang bersama ‘kan merapuh Mengapa Ajal memanggil dulu Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau, kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.

Kawanku dan Aku Kami sama pejalan larut Menembus kabut Hujan mengucur badan Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan
Darahku mengental pekat. Aku tumpat pedat
Siapa berkata-kata? Kawanku hanya rangka saja Karena dera mengelucak tenaga
Dia bertanya jam berapa?
Sudah larut sekali Hilang tenggelam segala makna Dan gerak tak punya arti

Kepada Kawan
Sebelum ajal mendekat dan mengkhianat, mencengkam dari belakang ‘tika kita tidak melihat, selama masih menggelombang dalam dada darah serta rasa,
belum bertugas kecewa dan gentar belum ada, tidak lupa tiba-tiba bisa malam membenam, layar merah berkibar hilang dalam kelam, kawan, mari kita putuskan kini di sini: Ajal yang menarik kita, juga mencekik diri sendiri!
Jadi Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan, Tembus jelajah dunia ini dan balikkan Peluk kucup perempuan, tinggalkan kalau merayu, Pilih kuda yang paling liar, pacu laju, Jangan tambatkan pada siang dan malam Dan Hancurkan lagi apa yang kau perbuat, Hilang sonder pusaka, sonder kerabat. Tidak minta ampun atas segala dosa, Tidak memberi pamit pada siapa saja! Jadi mari kita putuskan sekali lagi: Ajal yang menarik kita, ‘kan merasa angkasa sepi, Sekali lagi kawan, sebaris lagi: Tikamkan pedangmu hingga ke hulu Pada siapa yang mengairi kemurnian madu!!!

Doa kepada pemeluk teguh
Tuhanku Dalam termangu Aku masih menyebut namaMu
Biar susah sungguh mengingat Kau penuh seluruh
cayaMu panas suci tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku di pintuMu aku mengetuk aku tidak bisa berpaling

Kepada Peminta-minta Baik, baik, aku akan menghadap Dia Menyerahkan diri dan segala dosa Tapi jangan tentang lagi aku Nanti darahku jadi beku
Jangan lagi kau bercerita Sudah tercacar semua di muka Nanah meleleh dari muka Sambil berjalan kau usap juga
Bersuara tiap kau melangkah Mengerang tiap kau memandang Menetes dari suasana kau datang Sembarang kau merebah
Mengganggu dalam mimpiku Menghempas aku di bumi keras Di bibirku terasa pedas Mengaum di telingaku
Baik, baik, aku akan menghadap Dia Menyerahkan diri dan segala dosa Tapi jangan tentang lagi aku Nanti darahku jadi beku

Cerita Buat Dien Tamaela Beta Pattirajawane Yang dijaga datu-datu Cuma satu
Beta Pattirajawane Kikisan laut Berdarah laut
Beta Pattirajawane Ketika lahir dibawakan Datu dayung sampan
Beta Pattirajawane, menjaga hutan pala Beta api di pantai. Siapa mendekat Tiga kali menyebut beta punya nama
Dalam sunyi malam ganggang menari Menurut beta punya tifa, Pohon pala, badan perawan jadi Hidup sampai pagi tiba.
Mari menari! mari beria! mari berlupa!
Awas jangan bikin beta marah Beta bikin pala mati, gadis kaku Beta kirim datu-datu!
Beta ada di malam, ada di siang Irama ganggang dan api membakar pulau…
Beta Pattirajawane Yang dijaga datu-datu Cuma satu
Sebuah Kamar Sebuah jendela menyerahkan kamar ini pada dunia. Bulan yang menyinar ke dalam mau lebih banyak tahu. “Sudah lima anak bernyawa di sini, Aku salah satu!”
Ibuku tertidur dalam tersedu, Keramaian penjara sepi selalu, Bapakku sendiri terbaring jemu Matanya menatap orang tersalib di batu!
Sekeliling dunia bunuh diri! Aku minta adik lagi pada Ibu dan bapakku, karena mereka berada d luar hitungan: Kamar begini 3 x 4, terlalu sempit buat meniup nyawa!

Hampa
Kepada Sri Sepi di luar. Sepi menekan-mendesak Lurus kaku pohonan. Tak bergerak Sampai di puncak. Sepi memagut, Tak satu kuasa melepas-renggut Segala menanti. Menanti. Menanti Sepi Tambah ini menanti jadi mencekik Memberat-mencengkung punda Sampai binasa segala. Belum apa-apa Udara bertuba. Setan bertempik Ini sepi terus ada. Dan menanti.

PRAJURIT JAGA MALAM
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!

YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS 

Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
Menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
Malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu
Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin
Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
Tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku.
RUMAHKU Rumahku dari unggun-timbun sajak Kaca jernih dari luar segala nampakKulari dari gedong lebar halaman Aku tersesat tak dapat jalanKemah kudirikan ketika senjakala Di pagi terbang entah ke manaRumahku dari unggun-timbun sajak Di sini aku berbini dan beranakRasanya lama lagi, tapi datangnya datang Aku tidak lagi meraih petang Biar berleleran kata manis madu Jika menagih yang satu27 april 1943 
  PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO

Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut
Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh
SAJAK PUTIH
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut sendaSepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka Selama matamu bagiku menengadah Selama kau darah mengalir dari luka Antara kita Mati datang tidak membelah… 1944
 
                                                                                Sumber:www.biografipedia.com
                                                                                sumber puisi:www.was-was.com
                                                                               Sumber gambar :id.wikipedia.org