Cerpen :
Semua Tentang Kita
Sebelas bulan sudah berlalu.Tepatnya dua semester selesai. Tinggal enam bulan lagi untuk melanjutkan ke
grade berikutnya. Grade yang menurut Afi sangat menyebalkan.
Karena dia akan berpisah dengan sohib-sohibnya. Afi .Gadis berjilbab dengan tinggi dan berat badan
yang masih umum saat itu. Osya,
Oeri, dan Ida, merekalah para sohib Afi. Entah kenapa mereka
bisa dekat. Dan entah dari kapan mereka mulai. Yang jelas saat mereka pertama
kali satu kelas.
“Jalaninajadulu.Semogawaesekelaslagi.Amiiin.”
Gumam Afi dalam hati kecilnya. Taklupauntukmengamininya.
Afi sedang duduk
di depan kelas. Sendirian .Bukan karena Afi nggak punya temen, tapi karena masih subuh
alias masih pagi. Berangkat dari rumah aja pukul
06.00, perjalanan dari rumah kesekolah paling
lima menit. Itupun kalau pake sepeda
motor. Setelah stand by cukup lama, seorang cewek tiba-tiba dating dan berdiri
di belakang Afi. Ternyata cewek itu Oeri
yang menobatkan dirinya sebagai salah satu sohibnya Afi. Ehh,plus teman sebangkunya Afi.
“Kebiasaan, udahsetengah jam kankamududuk di sini???”
Tanya Oeri agak meledek.
“Ndak kok, agak siang,
telat tiga menit dari biasanya.”
Jawab Afi dengan kekonyolannya itu.
“Yaampuun, udahlah masuk kelas yuk!” Belakang pojok kanan adalah tempat duduk yang paling mereka suka. Sebenarnya bukan
yang disuka sih, cumin udah biasa. Mereka berdua langsung duduk dan saling cerita. Bla….bla…bla... Lama-lama kelas pun mulai terisi.
Embun pun mulai menguap. Lalu seseorang anak kecil dengan seragam
yang sama seperti Afi dan Oeri. Anak kecil ini juga salah satu sohibnya Afi.
Tinggal satu sohib lagi.
Tak lama kemudian dia datang ,seorang gadis berkaca mata.
Selain mengaku sohib Afi,
Oeri, dan Ida dan dia juga mengaku salah satu
fans dari KetOs. Ketua OSIS. Ketua OSIS itu mempunyai nama Fen. Panggilannya
Mas Fen.Gadis ini bernama Osya.
Meski dari empat kepala manusia ini,
punya sifat yang berbeda, tapi bukan perbedaan sifat
yang akan memisahkan mereka.
“Lagi cerita apa??????”
Tanya Osya yang baru nggabung.
“Iya nih aku belum
di kasih ngerti!!!!” Ida mulai ikut-ikutan.
“Emmmhhhh…..ini lhoo…”
belum usai Afi bicara.
Tiba-tiba….
“Teeeetttt…teeettt…teeettt…” bel masuk bunyi.
Semua siswa langsung bergegas menuju singgasananya masing-masing.
Semua siswa dikelas Afi sangat anteng.disiplin. Sudah bisa nebak
dong, gurunya yang disiplin. Semuanya sangat serius memperhatikan.
Sampai akhirnya bel kebebasan berbunyi. Semua siswa langsung berhamburan. Ada yang kekantin, keperpusdll. Afi dan para sohibnya langsung otw kekantin.
Mereka membeli yang di butuhkan perutnya.
Makanan and minuman. Mereka duduk lesehan
di depan lab.biologi.
“Emangnyaenak
yah???emangnyanggakpedes???” Tanya Osya yang sedari tadi mlongo ngliatin ketiga sohibnya.
“Coba aja dech. Pasti ketagihan!!!!”
bujuk Ida sianak kecil. Entah dapat
ide darimana. Lampu Afi menyala terang.
“Osya…kamubakalnangisnggakkaloperpisahannanti???”
Tanya Afi yang setahu Osya mengalihkan pembicaraan.
“ Iya kueh sya,
kan kamu bakal pisah sama
mas Fen???”timpal Oeri. “Enggaklah, masa nangis!” jawab Osya dengan sok
strong.
“Benerannih? Gini aja gimana kalo kamu nangis aku bakal kasih kamu tahunya,
tapi kalo ngga nangis kamu harus makan cabe ini!
Sekarang juga!” Kata Afi semangat 45.
“Masa makan cabe???”terkejut Osya
mendengarkannya. Para sohibnya mengangguk cepat. Kata-kata paksaan pun
keluar.Mengingat keadaannya terdesak. Osya mengiyakan pelan. Osya mengambil
cabe dan memakannya barengan dengan tahunya. Tak lupa juga air minumnya, yang
sudah disiapkan terlebih dahulu. “Cleekk” suara cabe tergigit ini
disambut bahagia Afi, Oeri, Ida dan kecuali Osya. Entah sejak kapan Osya minum.
Para sohibnya hanya tertawa terbahak-bahak.
“Awas lho kalo nanti aku nggak bisa
ikut UKK itu salah kalian !” kata Osya. Lagi-lagi para sohibnya tertawa tak
henti baru saja beberapa detik tertawa.
Mengganggu lagi. Semua siswa langsung masuk ke kelas. Waktu berjalan
sangat cepat. Satu jam pelajaran terakhir diambil untuk kebersihan kelas.
Seperti biasa sebelum UKK dilaksanakan
kelas-kelas akan dibereskan dulu. Kartu UKK sudah dibagi dua hari yang lalu.
Enam hari telah terlewati. Dimana tiap harinya menyantap pertanyaan dengan
lauk-pauknya yang apalah-apalah.
Alias
susah.sekarang semua siswa tinggal menunggu. Termasuk salah satunnya Afi. Dia
sudah mengira berapa peringkatnya sekarang.
“ Paling peringkatku nggak sampai lima belas besar!” gumam Afi dalam hatinya.
Tiba-tiba saja, semua siswa menuju ke kantin.
” Biasanya nggak sebanyak
ini!!!” lanjutnya yang mulai terdengar. Memang hari ini Afi lagi tidak
berkunjung ke kantin. Tak lama Afi meratapi keheranannya,Oeri, Ida, dan Osya
datang. Tentu sambil membawa beberapa makanan.
” Kalau kamu ndak jajan
setidaknya ya kebawah!!!” kata Ida sambil cengar-cengir nggak genah. Oeri dan
Osya saling berpandang-pandang. Dan saling mengangkat bahu.
“Selamat ya Osy,” kata afi
berusaha tidak menggubris pertanyaan Ida. Osya mengangguk dan tersenyum.
Belum lama dari kejadian itu,
semua wali siswa menapakkan kakinya di sekolah anak-anaknya. Benar. Hari ini
hari penerimaan rapor. Dan hari ini juga hari terakhir Afi melihat kebahagiaan
bersama para sohibnya. Selain penerimaan rapor, hari ini juga hari perpisahan
kelas sembilan. Gimana perasaan Osya?.
“Osya... kali ini penampilannya mas
Fen tuh sama mba Windia” kata Oeri pada Osya. Mba Windia. Seorang dara cantik
yang mempunyai jabatan sebagai ManWaKetOs. Mantan Wakil Ketua OSIS. Penampilan
mas Fen dan mba Windia keren banget. Mereka menyanyikan lagu”Perpisahan
Termanis”. Muka sedih,kecewa terlihat cukup jelas dari wajah Osya.
“Nangis yah?????” tanya Afi
histeris.
“Enggak..enggak kok” jawab Osya.
Mereka pun terdiam. Sampai liburan berakhir. Hari pertama mereka berangkat lagi
ke sekolah.seperti biasa.semua siswa yang datang asti ngga bakal menuju
kelasnya. Tahu kelasnya aja belum. Afi langsung mendekati papan pengumuman.
Namanya tertera di kelas ..... 8d??? “Ida di kelas delapan A, Osya delapan B,
Aku delapan D dan Oeri di ..... delapan G???” gumam hatinya. Tak
berhenti-henti.
“Nggak ada yang satu
kelas???Subhanallah” lanjutnya. Afi langsung menuju kelas yang baginya masih
terasa asing. Hatinya tak berhenti-henti untuk bergumam. Setelah koordinasi di
kelas asingnya. Dan bel pulang berbuny. Afi langsung terbang menuju ke delapan
B, kelas Osya. Disana sudah ada Ida, Oeri, dan tentu Osya.
“Aku terakhir!!” kata Afi tiba-tiba.
“Haha...sekelas sama...” belum
selesai Oeri bicara.
“Diaaam ahhh!!!!” diserobot sama
Afi.
“Nggak ada yang satu kelas!” ucap
Ida membuka pembicaraan.
“Sudahlah mari adaptasi dengan yang asing.” Kata-kata
ini terlontar dari diri Osya.
Sejak
perkataan itu terlontar dari Osya,mereka jadi lebih jarang berkumpul. Jangankan
berkumpul bertemu saja jarang. Afi sangat kecewa dengan keadaan ini. Dia tidak
habis pikir akan terjadi seperti ini. Allohua’lam.
“Aku ngerti. Aku paham. Sangat paham malah.
Masa lalu hanyalah masa lalu.” Gumaman ini selalu terngiang sebelum Afi
tidur. Setiap kali mereka bertemu dengan
salah satu atau semua mereka hanya akan melambaikan tangan dan tersenyum.
Mungkin itulah arti nyesek buat Afi. Dan mungkin juga nggak heran nilainya turu
lagi.
“Afi..Afii...Ayolah Fii... bener
kata Osya adaptasi!adaptasi!” kata motivasi yang setia mendampinginya. Dalam
posisi ini memang cukup sulit untuk memilih. Ia teringat salah satu bacaan pada
edisi ke tiga puluh tujuh. Mantra “Man Shabara Zhafira” atau siapa yang
bersabar akan beruntung benar-benar terbukti ampuh. Afi akan beradaptasi plus
juga besabar menunggu para sohibnya kembali. Menurut Afi, dia yang paling
lambat untuk berdaptasi. Dia juga mendapat dukungan dari salah satu bernama kak
Rizal. Seorang cowok dari universitas di kotanya dan sedang ppl disekolah Afi.
Hujan???
Sekarang?? Iya. Sekarang sudah bulan desember. Bulan kelahiran salah satu sohibnya.
Lebih tepatnya mantan sohib. Tinggal nunggu tiga detik lagi. Tiga...Dua
..Satu..
“Deeeeng!!” sekarang sudah masuk ke hari ultah Osya. Tepatnya di hari
senin,29 Desember . sejak kemarin, Afi memikirkan akan memberi hadiah apa.
Setelah ia pikir-pikir ia hanya akan mengucapkan selamat. Semoga saja direspon.
Memang selama ini hubungan yang paling renggang sama Osya. Sama Oeri tetap
biasa mungkin karena dulu satu bangku. Kalau sama Ida mungkin karena sering ke
kelasnya. Jangan ge-er dulu. Bukan buat nemuin Afi. Tapi salh tu temennya yang
sama-ama mengidolaan artis yang sama. Namanya puji.
“Dasar anak kecil. Aku sing bingng koh. Manggili aku cuman buat disuruh manggil
Puji.” Sempat muncul kata seperti ini.
Saking emosinya. Setelah dipikir-pikir ngga aa gunanya juga urusan sama anak
kecil. Afi pun meraih ponselnya, dan langsung membuka FB.
“Pasti hari ini Osya pasti on!” gumamnya
sambil menekan layar ponselnya. Dan mulai mucul di layar ponselnya:
“HBD ya Osya.., semoga panjang umur sehat selalu, bisa ngebanggain orang
tua. Amiiin” setidaknya dia sudah
mengucapkan congratulation. Afi berharap akan segera direspon. Setelah menunggu
beberapa jam belum juga kunjung di balas Osya. Memang hari ini hari libur.
Karena libur. Besok libur. Lusa libur. Sepertinya Afi lelah menunggu jawaban
Osya. Dia langsung membanting ponselnya ke kasur. Begitu juga tubuhnya.
Lama-lama ia tertidur. Entah mimpi apa sekarang Afi. Sampai-sampai ia baru
bangkit dari mimpnya. Dia langsung mengotak-atik ponselnya lagi, dan ternyta
ada pesan
“Apakah ini memang Osya” gumamnya. Ia membuka pesan
yangmemang benr dari Osya. Entah dari kapan mata air Afi meluncur. Dia tak
tahan melihat layar ponselnya. Osya merespon...
“Iya makasih. Sahabat yang rela dicuekin.!” Afi tak
menyangka akan direspon seperti ini. Afi sadar.
Hatinya bangkit dari
kesedihannya. Dan dia memutuskan untuk berkumpul bareng sama para sohibnya
lagi. Perkataan itu benar. Setelah lama, tak berkumpul, mereka berkumpul di anak
tangga depan 9 E sekarang. Meski tak empat pasang mata Afi sangat bahagia. Namun, Ida hanya sebentar,.
Dan kembali ke sohibnya yang baru.
“Osya,garikoh
ikut OSIS” kata Oeri sambil melihat amplop yang dipegang Osya. “Ia tuh Osya, nanti jadi tambah mirip sama mas Fen!” Afi
ikut angkat bicara. Osya hanya menggeleng. Afi dan Oeri saling menatap dan
angkat bahu.-
“Memangnya kenapa?” tanya Afi.
“Iya....gimana yah, kalo ikut OSIS nanti aku nggak punya
waktu buat kalian!” jawaban Osya membuat hati Afi bergemuruh.
“Oeri...apakah kau sama??sama merasakan seperti ini??”
dalam hatinya yang tak mungkin Oeri jawab.
“Kita mah nggak papa, kalo mau ikut OSIS ikut aja.!” Usul
Oeri.
“Iya Oeri, masa sih seseibuk itu diri kamu. Setidaknya an
kamu masih punya waktu. Hari Minggu” Afi ikut bicara lagi
“Nanti aku pikirkan” jawab Osya agak berat.
Setelah dirasa sudah waktunya pulang, Afi pun pulang
dengan hati yang berbunga-bunga. Ia terjunkan tubuhnya ke pulau kapuk. Sambil
meraih ponselnya. Tiba-tiba.....
,......................................
Waktu terasa semakin berlalu
Tinggalkan cerita tentang kita
Akan tiada lagi kini tawamu
Tuk hapuskan semua sedih di hati
Ada cerita tentang aku dan dia
Saat kita berduka saat kita tertawa
.............................................
(Semua Tentang Kita)
Semenjak
perkumpulan ini terjadi, mereka jadi lebih saling memahami dan
kadang-kadang kumpul-kumpul kek gini. Semoga langgeng ya Afi. Amiiiiiiiiiiin.
Twitter
Facebook
Digg
Delicious
Stumble

0 komentar :
Posting Komentar