Selasa, 24 November 2015

Cerpen "Semua Tentang Kita"


Cerpen :


Semua Tentang Kita
Sebelas bulan sudah berlalu.Tepatnya dua semester selesai. Tinggal enam bulan lagi untuk melanjutkan ke grade berikutnya. Grade yang menurut Afi sangat menyebalkan. Karena dia akan berpisah dengan sohib-sohibnya. Afi .Gadis berjilbab dengan tinggi dan berat badan yang masih umum saat itu. Osya, Oeri, dan Ida, merekalah para sohib Afi. Entah kenapa mereka bisa dekat. Dan entah dari kapan mereka mulai. Yang jelas saat mereka pertama kali satu kelas.
“Jalaninajadulu.Semogawaesekelaslagi.Amiiin.” Gumam Afi dalam hati kecilnya. Taklupauntukmengamininya.    
 Afi sedang duduk di depan kelas. Sendirian .Bukan karena Afi nggak punya temen, tapi karena masih subuh alias masih pagi. Berangkat dari rumah aja pukul 06.00, perjalanan dari rumah kesekolah paling lima menit. Itupun kalau pake sepeda motor. Setelah stand by cukup lama, seorang cewek tiba-tiba dating dan berdiri di belakang Afi. Ternyata cewek itu Oeri yang menobatkan dirinya sebagai salah satu sohibnya Afi. Ehh,plus teman sebangkunya Afi.
 Kebiasaan, udahsetengah jam kankamududuk di sini???” Tanya Oeri agak meledek.        
 “Ndak kok, agak siang, telat tiga menit dari biasanya.” Jawab Afi dengan kekonyolannya itu.  
 “Yaampuun, udahlah masuk kelas yuk!” Belakang pojok kanan adalah tempat duduk  yang  paling mereka suka. Sebenarnya bukan yang disuka sih, cumin udah biasa. Mereka berdua langsung duduk dan saling cerita. Bla….bla…bla...  Lama-lama kelas pun mulai terisi. Embun pun mulai menguap. Lalu seseorang anak kecil dengan seragam yang sama seperti Afi dan Oeri. Anak kecil ini juga salah satu sohibnya Afi.  Tinggal satu sohib lagi. Tak lama kemudian dia datang ,seorang gadis berkaca mata. Selain mengaku sohib Afi, Oeri, dan Ida dan dia juga mengaku salah satu fans dari KetOs. Ketua OSIS. Ketua OSIS itu mempunyai nama Fen. Panggilannya Mas Fen.Gadis ini bernama Osya. Meski dari empat kepala manusia ini, punya sifat yang berbeda,  tapi bukan perbedaan sifat yang akan memisahkan mereka.
“Lagi cerita apa??????” Tanya Osya yang baru nggabung.                                             
 “Iya nih aku belum di kasih ngerti!!!!” Ida mulai ikut-ikutan.                            
 “Emmmhhhh…..ini lhoo…” belum usai Afi bicara.

 Tiba-tiba….                
 “Teeeetttt…teeettt…teeettt…” bel masuk bunyi. Semua siswa langsung bergegas menuju singgasananya masing-masing. Semua siswa dikelas Afi sangat anteng.disiplin. Sudah bisa  nebak dong, gurunya yang disiplin. Semuanya sangat serius memperhatikan. Sampai akhirnya bel kebebasan berbunyi. Semua siswa langsung berhamburan. Ada yang kekantin, keperpusdll. Afi dan para sohibnya langsung otw kekantin. Mereka membeli yang di butuhkan perutnya. Makanan and minuman. Mereka duduk lesehan di depan lab.biologi.
“Emangnyaenak yah???emangnyanggakpedes???” Tanya Osya yang sedari tadi mlongo ngliatin ketiga sohibnya.
“Coba aja dech. Pasti ketagihan!!!!” bujuk Ida sianak kecil. Entah dapat ide darimana. Lampu Afi menyala terang.
“Osya…kamubakalnangisnggakkaloperpisahannanti???” Tanya Afi yang setahu Osya mengalihkan pembicaraan.                                                                                                                              
“ Iya kueh sya, kan kamu bakal pisah sama mas Fen???”timpal Oeri.                                                     “Enggaklah, masa nangis!” jawab Osya dengan sok strong.                                                   
  “Benerannih? Gini aja gimana kalo kamu nangis aku bakal kasih kamu tahunya, tapi kalo ngga nangis kamu harus makan cabe ini! Sekarang juga!” Kata Afi semangat 45.                      
 “Masa makan cabe???”terkejut Osya mendengarkannya. Para sohibnya mengangguk cepat. Kata-kata paksaan pun keluar.Mengingat keadaannya terdesak. Osya mengiyakan pelan. Osya mengambil cabe dan memakannya barengan dengan tahunya. Tak lupa juga air minumnya, yang sudah disiapkan terlebih dahulu.   “Cleekk” suara cabe tergigit ini disambut bahagia Afi, Oeri, Ida dan kecuali Osya. Entah sejak kapan Osya minum. Para sohibnya hanya tertawa terbahak-bahak.
 “Awas lho kalo nanti aku nggak bisa ikut UKK itu salah kalian !” kata Osya. Lagi-lagi para sohibnya tertawa tak henti baru saja beberapa detik tertawa.  Mengganggu lagi. Semua siswa langsung masuk ke kelas. Waktu berjalan sangat cepat. Satu jam pelajaran terakhir diambil untuk kebersihan kelas. Seperti biasa sebelum UKK  dilaksanakan kelas-kelas akan dibereskan dulu. Kartu UKK sudah dibagi dua hari yang lalu. Enam hari telah terlewati. Dimana tiap harinya menyantap pertanyaan dengan lauk-pauknya yang apalah-apalah.
 Alias susah.sekarang semua siswa tinggal menunggu. Termasuk salah satunnya Afi. Dia sudah mengira berapa peringkatnya sekarang.                                                                                              
 “ Paling peringkatku nggak sampai lima belas besar!” gumam Afi dalam hatinya. Tiba-tiba saja, semua siswa menuju ke kantin.                                                                                                               
 ” Biasanya nggak sebanyak ini!!!” lanjutnya yang mulai terdengar. Memang hari ini Afi lagi tidak berkunjung ke kantin. Tak lama Afi meratapi keheranannya,Oeri, Ida, dan Osya datang. Tentu sambil membawa beberapa makanan.                                                                                            
 ” Kalau kamu ndak jajan setidaknya ya kebawah!!!” kata Ida sambil cengar-cengir nggak genah. Oeri dan Osya saling berpandang-pandang. Dan saling mengangkat bahu.                          
 “Selamat ya Osy,” kata afi berusaha tidak menggubris pertanyaan Ida. Osya mengangguk dan tersenyum.
Belum lama dari kejadian itu, semua wali siswa menapakkan kakinya di sekolah anak-anaknya. Benar. Hari ini hari penerimaan rapor. Dan hari ini juga hari terakhir Afi melihat kebahagiaan bersama para sohibnya. Selain penerimaan rapor, hari ini juga hari perpisahan kelas sembilan. Gimana perasaan Osya?.                                                                                                   
“Osya... kali ini penampilannya mas Fen tuh sama mba Windia” kata Oeri pada Osya.              Mba Windia. Seorang dara cantik yang mempunyai jabatan sebagai ManWaKetOs. Mantan Wakil Ketua OSIS. Penampilan mas Fen dan mba Windia keren banget. Mereka menyanyikan lagu”Perpisahan Termanis”. Muka sedih,kecewa terlihat cukup jelas dari wajah Osya. 
 “Nangis yah?????” tanya Afi histeris.                                                         
“Enggak..enggak kok” jawab Osya. Mereka pun terdiam. Sampai liburan berakhir. Hari pertama mereka berangkat lagi ke sekolah.seperti biasa.semua siswa yang datang asti ngga bakal menuju kelasnya. Tahu kelasnya aja belum. Afi langsung mendekati papan pengumuman. Namanya tertera di kelas ..... 8d???   “Ida di kelas delapan A, Osya delapan B, Aku delapan D dan Oeri di ..... delapan G???” gumam hatinya. Tak berhenti-henti.                                                                                                      
 “Nggak ada yang satu kelas???Subhanallah” lanjutnya. Afi langsung menuju kelas yang baginya masih terasa asing. Hatinya tak berhenti-henti untuk bergumam. Setelah koordinasi di kelas asingnya. Dan bel pulang berbuny. Afi langsung terbang menuju ke delapan B, kelas Osya. Disana sudah ada Ida, Oeri, dan tentu Osya.                                                                                     
“Aku terakhir!!” kata Afi tiba-tiba.                                                                                       
“Haha...sekelas sama...” belum selesai Oeri bicara.                                                                     
 “Diaaam ahhh!!!!” diserobot sama Afi.                                                                                     
“Nggak ada yang satu kelas!” ucap Ida membuka pembicaraan. 
“Sudahlah mari adaptasi dengan yang asing.” Kata-kata ini terlontar dari diri Osya.
            Sejak perkataan itu terlontar dari Osya,mereka jadi lebih jarang berkumpul. Jangankan berkumpul bertemu saja jarang. Afi sangat kecewa dengan keadaan ini. Dia tidak habis pikir akan terjadi seperti ini. Allohua’lam.                                                                                                   
 “Aku ngerti. Aku paham. Sangat paham malah. Masa lalu hanyalah masa lalu.” Gumaman ini selalu terngiang sebelum Afi tidur.  Setiap kali mereka bertemu dengan salah satu atau semua mereka hanya akan melambaikan tangan dan tersenyum. Mungkin itulah arti nyesek buat Afi. Dan mungkin juga nggak heran nilainya turu lagi.                                                              
“Afi..Afii...Ayolah Fii... bener kata Osya adaptasi!adaptasi!” kata motivasi yang setia mendampinginya. Dalam posisi ini memang cukup sulit untuk memilih. Ia teringat salah satu bacaan pada edisi ke tiga puluh tujuh. Mantra “Man Shabara Zhafira” atau siapa yang bersabar akan beruntung benar-benar terbukti ampuh. Afi akan beradaptasi plus juga besabar menunggu para sohibnya kembali. Menurut Afi, dia yang paling lambat untuk berdaptasi. Dia juga mendapat dukungan dari salah satu bernama kak Rizal. Seorang cowok dari universitas di kotanya dan sedang ppl disekolah Afi.
            Hujan??? Sekarang?? Iya. Sekarang sudah bulan desember. Bulan kelahiran salah satu sohibnya. Lebih tepatnya mantan sohib. Tinggal nunggu tiga detik lagi. Tiga...Dua ..Satu.. 
“Deeeeng!!” sekarang sudah masuk ke hari ultah Osya. Tepatnya di hari senin,29 Desember . sejak kemarin, Afi memikirkan akan memberi hadiah apa. Setelah ia pikir-pikir ia hanya akan mengucapkan selamat. Semoga saja direspon. Memang selama ini hubungan yang paling renggang sama Osya. Sama Oeri tetap biasa mungkin karena dulu satu bangku. Kalau sama Ida mungkin karena sering ke kelasnya. Jangan ge-er dulu. Bukan buat nemuin Afi. Tapi salh tu temennya yang sama-ama mengidolaan artis yang sama. Namanya puji.                                                
“Dasar anak kecil. Aku sing bingng koh. Manggili aku cuman buat disuruh manggil Puji.”  Sempat muncul kata seperti ini. Saking emosinya. Setelah dipikir-pikir ngga aa gunanya juga urusan sama anak kecil. Afi pun meraih ponselnya, dan langsung membuka FB.                                      
 “Pasti hari ini Osya pasti on!” gumamnya sambil menekan layar ponselnya. Dan mulai mucul di layar ponselnya:                                                                                                                     
HBD ya Osya.., semoga panjang umur sehat selalu, bisa ngebanggain orang tua. Amiiin  setidaknya dia sudah mengucapkan congratulation. Afi berharap akan segera direspon. Setelah menunggu beberapa jam belum juga kunjung di balas Osya. Memang hari ini hari libur. Karena libur. Besok libur. Lusa libur. Sepertinya Afi lelah menunggu jawaban Osya. Dia langsung membanting ponselnya ke kasur. Begitu juga tubuhnya. Lama-lama ia tertidur. Entah mimpi apa sekarang Afi. Sampai-sampai ia baru bangkit dari mimpnya. Dia langsung mengotak-atik ponselnya lagi, dan ternyta ada pesan
“Apakah ini memang Osya” gumamnya. Ia membuka pesan yangmemang benr dari Osya. Entah dari kapan mata air Afi meluncur. Dia tak tahan melihat layar ponselnya. Osya merespon...
“Iya makasih. Sahabat yang rela dicuekin.!” Afi tak menyangka akan direspon seperti ini. Afi sadar.
Hatinya bangkit dari kesedihannya. Dan dia memutuskan untuk berkumpul bareng sama para sohibnya lagi. Perkataan itu benar. Setelah lama, tak berkumpul, mereka berkumpul di anak tangga depan 9 E sekarang. Meski tak empat pasang mata Afi  sangat bahagia. Namun, Ida hanya sebentar,. Dan kembali ke sohibnya yang baru.                                                                  
 “Osya,garikoh ikut OSIS” kata Oeri sambil melihat amplop yang dipegang Osya.                                   “Ia tuh Osya, nanti jadi tambah mirip sama mas Fen!” Afi ikut angkat bicara. Osya hanya menggeleng. Afi dan Oeri saling menatap dan angkat bahu.-
“Memangnya kenapa?” tanya Afi.
“Iya....gimana yah, kalo ikut OSIS nanti aku nggak punya waktu buat kalian!” jawaban Osya membuat hati Afi bergemuruh.
“Oeri...apakah kau sama??sama merasakan seperti ini??” dalam hatinya yang tak mungkin Oeri jawab.
“Kita mah nggak papa, kalo mau ikut OSIS ikut aja.!” Usul Oeri.
“Iya Oeri, masa sih seseibuk itu diri kamu. Setidaknya an kamu masih punya waktu. Hari Minggu” Afi ikut bicara lagi
“Nanti aku pikirkan” jawab Osya agak berat.
Setelah dirasa sudah waktunya pulang, Afi pun pulang dengan hati yang berbunga-bunga. Ia terjunkan tubuhnya ke pulau kapuk. Sambil meraih ponselnya. Tiba-tiba.....
 ,......................................
Waktu terasa semakin berlalu
Tinggalkan cerita tentang kita
Akan tiada lagi kini tawamu
Tuk hapuskan semua sedih di hati
Ada cerita tentang aku dan dia
Saat kita berduka saat kita tertawa
.............................................
(Semua Tentang Kita)
Semenjak  perkumpulan ini terjadi, mereka jadi lebih saling memahami dan kadang-kadang kumpul-kumpul kek gini. Semoga langgeng ya Afi. Amiiiiiiiiiiin.

0 komentar :

Posting Komentar